Senyuman Palsu Wanita Bodoh



Awal dari kehidupan seorang manusia, bagi gw adalah seperti perjudian. Bocah yang lucu dan imut yang lahir dari perjuangan hidup dan mati seorang ibu kelak akan menjadi apa ?. Harapan dan kenginan tampak dari senyuman ayah dan ibu di balik tangisan penyambutan dunia. Kepalan tangan dari seorang bocah seakan menggenggam erat harapan dari kedua orang tuanya, namun beberapa dari kita mendustainya. Dan beberapa dari kita pula mampu untuk tetap berjalan pada jalur yang benar, meski terkadang harus menunggu tobat yang entah kapan datangnnya.

Kepalsuan adalah salah satu bagian dari kehidupan, bahkan merupakan akar dari sebuah kebohongan yang berujung kehancuran. Dari judul artikel gw ini " Senyuman Palsu Wanita Bodoh " sebenarnya berawal dari berita yang sempat dimuat di tribunnews.com yang berjudul " 62% Remaja Indonesia Tidak Perawan " setelah gw baca, hasil survei berasal dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2008. Respon pertama gw sih santai sambil berkata dalam hati " Bukan urusan gw, toh gw nyarinya bukan remaja tapi wanita dewasa " , tapi gw kembali berpikir, bukannya wanita dewasa ada setelah dia remaja. Wah berbahaya, berarti kudu selektif mencari wanita yang masih perawan eh yang pintar , kenapa ? yah sok kenapa ?. Karena menurut gw hanya mereka yang bodoh yang rela melepaskan kehormatannya untuk seorang lelaki yang belum resmi menjadi suaminya. Terkadang gw sering tertawa kalau ada cewek yang berkata " semua cowok itu sama ajah, br*ngsek " hahahay punten #ngakak heula sakedap....

Teringat dengan teman gw yang baru putus, setelah gw dengar cerita darinya yang suka main nganu-nganuan. Gw jadi ambil kesimpulan bahwa teman gw tetap bisa tersenyum karena telah mendapatkan apa yang diinginkan seorang lelaki dari seorang wanita . Kalau dalam lirik lagunya The Panas Dalam " Siapapun kamu bagaimanamu, ujung-ujungnnya minta kelamin ". Sedangkan pacarnya, yah tetap bisa tersenyum juga, tapi palsu. Buat yang belum mengenalnya dan tahu banyak tentang sepak terjangnnya, mungkin akan tetap terpesona. Tapi untuk yang sudah mengenalnya, akan ada pandangan yang berbeda. Gw ambil contoh skandal artis Indonesia, sebelum dan sesudah skandalnya beredar. Sebelum terkena skandal, asli gw terpesona dengan artis ini tapi setelah terkena skandal, haha ngelihatnya juga udah malas, meski tetap cantik. Eits....beda loh wanita yang sudah gak perawan pranikah dan setelah menikah, wanita yang sudah gak perawan setelah menikah atau biasa disebut janda jauh lebih terlihat anggun dan terhormat, beda jauh dengan yang sudah gak perawan pranikah, itu menurutku.

Wanita selalu menjadi korban, tapi kalimat ini tidak berpengaruh buat mereka yang telah terperdaya cinta. Lagi-lagi karena cinta, okay kita mencoba untuk tidak menyalahkan wanita, kita salahkan saja cinta. Jadi gak usah mencintai, jika tetap sulit yah gak usah punya hati. Lelaki yang baik sangat banyak ( misalnya gw ehem... ) yang seharusnya tercipta untuk wanita yang pintar dan mau berpikir sebelum bertindak. Tapi resikonya cukup banyak lelaki yang baik, tapi tidak berjalan lurus dengan kondisi fisiknya, sedangkan wanita jaman sekarang 98% menjadikan fisik sebagai patokan awal memilih pasangan. Jadi jangan pernah percaya kalau ada cewek yang berkata " aku tuh gak muluk-muluk, yang penting baik, pengertian, tanggung jawab, dan sayang ama keluarga aku" huahahah bohong, itu adalah kebohongan jaman penjajahan belanda. Lelaki baik akan bertemu wanita yang baik, lelaki yang baik cenderung punya visi misi kehidupan yang jelas wahaha, contohnya gw ehem..lagi, yang kali ini lebih memilih menjadi seorang jomblo dengan alasan " emak gw ngasih gw duit bukan untuk kekasih" wahahaha.... tapi gak tau deh kalau gw khilaf atau menjadi munafik dikemudian hari

" Lelaki yang brengsek ada karena adanya wanita yang bodoh "

1 comments:

Anonymous said...

Cinta bikin gw bodoh bang....& gw sadar ketika yg gw cintai ga cinta gw lg.
Nice post.... Tapi menurut gw,,, brengsek mah brengsek adja, faktor internal itu. Ngak pengaruh dr luar... Menurut gw loch yach

Post a Comment