Ada Apa dengan Apa Yang Ada ? Yang Jelas Aku Juga Bisa






Jum’at 21 Agustus 2015 , Seorang pemuda telah mengacungkan jari dan berkata “ hari ini aku adalah seorang pengangguran “. Keluar dari medan pertempuran ruang sidang, dengan penuh kepuasan dia berucap syukur karena telah lepas dari kebosanan dan keletihan yang berlarut-larut. Tak ada yang istimewa, terkecuali dari ruangan sidang sebelah dimana seorang gadis menunggu sang kekasih dengan setangkai bunga dalam genggamannya. Aku melirik dan sedikit iri, namun tak apa dirumahku sudah ada ibuku yang menunggu kabar dariku untuk menyombongkan anaknya yang telah menjadi sarjana di tanah rantau.
Setelah melewati perjuangan yang cukup panjang, akhirnya aku menyelesaikannya dengan cukup baik, yah aku anggap itu cukup baik. Meski saat aku memulai perjuangan, aku hanyalah sampah dan jika dipandang sebelah mata juga terlalu istimewa. Semester 1, 2, 3, dan 4 aku adalah seorang anak bawang yang tak punya pengaruh, daya bahkan upaya. Bahkan salah satu temanku berkata bahwa aku telah gagal menjadi anak Informatika. Hingga akhirnya aku mulai mencoba sedikit menunjukan diri pada 5 semester terakhir, dan mulai mendapat pengakuan. Aku mencoba berubah bukan untuk mereka, tapi untuk diriku sendiri. Sembari berkata dalam hati “ untuk apa kuliah jauh-jauh kalau hanya untuk jadi orang bodoh “.
Hari esok sepertinya menyeramkan, dimana aku harus kembali pada kampung halamanku dan meninggalkan apa yang membuatku nyaman di tempat ini. Aku datang sebagai orang asing, dan sepertinya harus pergi dan memberi kesan bahwa aku tak pernah ada di tempat ini. Sudahkah aku ?, mungkinkah aku ?, apakah aku ? aku berharap tak ada pertanyaan yang mencoba mengikatku dengan tempat ini.
“ Aku Mungkin Bukan Orang Yang Pintar, Tapi Jujur Aku Tak Pernah Terima Jika Dikatan Orang Bodoh “

Semua Akan Munafik Pada Waktunya





Aku, kamu, dan mungkin dia adalah salah satu makhluk munafik yang telah tercatat rapi dalam buku kemunafikan dunia. Hari ini diinjak esok dirangkul, hari ini diludahi esok dijilat, dan hari ini aku akan bercerita tentang kemunafikan yang menari-nari dihadapanku selama ini.
Semua akan munafik pada waktunya dan aku pernah. Saat aku berkata aku sangat tidak setuju dengan cinta yang berdasar pada “kesempatan” namun aku terjerat didalamnya, mencintai seseorang yang mumpung juga mencintaiku. Hingga akhirnya aku mengakhiri kemunafikan itu. Begitu pula dengan kondisi-kondisi seperti berikut :
·         Sebagian besar cewek berkata “ aku tuh gak suka ama cowok yang perokok “ namun pada akhirnya dia pacaran dan bahkan menikah dengan cowok yang perokok. Semua akan munafik pada waktunya.
·         Biasanya cewek yang jomblo akan berkata “ aku gak mau pacaran, aku maunya langsung dilamar dan nikah” namun beberapa hari kemudian dia telah memiliki gandengan. Semua akan munafik pada waktunya.
·         Ketika seorang cowok melarang teman-temannya yang sedang asik menonton film dewasa dengan dasar agama, namun beberapa waktu berselang dia sendiri telah memiliki kriteria tersendiri untuk menonton film dewasa. Semua akan munafik pada waktunya.
·         Ketika sepasang remaja bertengkar dan mengakhiri kisah cinta mereka, kemudian salah satu dari mereka berkata tak akan pernah bersama lagi. Namun akhirnya, karena sesuatu hal akhirnya mereka kembali bersama. Semua akan munafik pada waktunya.
Mungkin suatu hari nanti giliran kita yang munafik, kita sulit untuk menghindarinya. Jika tak ingin munafik, cobalah berfikir sebelum berucap dan bertindak. Sama sekali tak ada larangan untuk munafik, yang ada hanya sebuah lelucon yang bersarang dalam pikiran orang lain dan hati dari sang pelaku.
“Kita Takan Pernah Tau Kapan Harus Munafik, Yang Pasti Semua Akan Munafik Pada Waktunya “


Aku Juga Mungkin Pernah Tampan






Meski memiliki bentuk fisik yang hampir sama kuda dan zebra memiliki tingkat kekerenan yang berbeda, Kuda seakan menjadi sosok hewan yang perkasa dan sering dijadikan kendaraan oleh para pahlawan mulai dari Zorro, Rhoma Irama (Satria Bergitar), hingga pak kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya. Sedangkan zebra ? paling hanya dijadikan tanda penyebrangan yang biasa disebut “Zebra Cross”, sungguh menyedihkan. Dan aku adalah zebra yang takan pernah bisa sekeren kuda. Dan aku tetaplah zebra, yang warna hitam putihku akan kalah menarik dari papan catur tempat bidak catur menari-nari.
Saat gw duduk di sekolah menengah pertama, ada seorang wanita yang menyukaiku dan aku senang. Dia menyukaiku, apakah karena aku tampan ? tentu tidak , alasannya karena gw mirip mantan pacarnya. Kemudian Saat gw duduk di  sekolah menengah atas, ada lagi wanita yang menyukaiku dan aku senang. Dia menyukaiku, apakah karena aku tampan ? tentu tidak, alasannya karena  gw enak diajak ngobrol. Begitu pula dengan kisah-kisah lainnya, nggak pernah ada yang menjadikan ketampanan sebagai alasan dia tertarik padaku. Padahal kalau dirumah gw sering bertanya kepada cermin “ wahai cermin, siapakah pria tertampan didunia ini ? “ Cermin hanya bisa diam dan membisu. Namun menurut survey yang ditujukan untuk 100 orang motivator di salah satu daerah di negara Zimbabwe mengatakan bahwa “ selalulah untuk berfikir positif kapanpun dan di manapun”, itulah yang akhirnya membuat gw berpikir bahwa cermin akan berkata gw lah yang tertampan di dunia ini.
Gw si pemuda bertubuh kurus yang bercita-cita untuk jadi pria tampan sejak jaman penjajahan sungguh tak pernah tercapai, malah tambah jauh dari kata tampan. Apalagi saat tahun 2013 butiran merah merona mulai menghiasi wajahku, ketampanan mulai hilang dari hidupku. Dan tahun 2014 akhir, aku kembali diterjang sebuah tragedi dimana gigi kelinciku harus terpotong setengah karena lompat indah dikolam renang anak kecil. Aku seakan melengkapi syarat menjadi pria yang jauh dari kata tampan, ditambah mata minus yang memaksaku untuk menggunakan kacamata. Belum sampai disitu, gw yang mempunya hobi mengondrongkan rambut melengkapi diriku yang urakan dan tak terurus. Tapi gw selalu yakin, Kalau aku juga pernah tampan.
Kesimpulan yang bisa gw tarik, gw telah gagal jadi pria idaman. Meski sebelumnya gw pernah berkata jika gw adalah pria idaman wanita. Sepertinya aku telah berbohong waktu itu. Gw seakan menjadi karakter geek dalam film “ Campus Confidential  “, meski terlihat menjijikan dia mampu menaklukan wanita tercantik di kampusnya. Sayang, itu hanya fiksi dan peluang terjadi dalam kehidupan nyata sangat kecil, dan tergantung kerja dari seorang dukun.
“ Jika ada yang mencintaimu dalam keadaan keadaan menjijikan, maka yakinlah itu adalah cinta sejati yang tulus dan suci “